Yusuf Pohan : Sohib Dari Masjid ke Silaturahim Religi
Segala puji bagi Allah Tuhan alam semesta. Dan kesudahan yang baik itu adalah milik orang-orang yang bertaqwa. Semoga shalawat dan salam sejahtera tetap terlimpah kepada Nabi Muhammad SAW, hamba Allah dan Rasul-Nua, juga kepada keluarga dan para sahabat serta pengikutnya sampai akhir zaman.
Inilah adalah sebutir pasir di sepanjang pantai Indonesia, yang penulis ambil judul “Yusuf Pohan: Sohib Dari Masjid ke Silaturahim Religi” dengan maksud agar menjadi ibroh sosok sahabat dalam suka dan duka mengarungi kehidupan dari sejak SMA sampai berkeluarga.
Cerita mengenai Yusuf Pohan atau kami memanggil akrabnya, dengan Ucok, secara ringkas dengan ulasan-ulasan yang masih jauh dari kata sempurna, penulis mencoba menggali sosok seorang sahabat ini dari semangat perjuangan dan pengabdian beliau baik secara individual, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara.
Tulisan ini sebagai upaya berbuat yang berarti dan tulus untuk keluarga, sahabat-sahabatnya, teman-teman dekatnya serta orang-orang yang mencintai kebenaran dan kesabaran dalam menjalani kehidupan yang keras ini, seperti yang sering Ucok sampaikan walau dalam bentuk humor, setiap ado kawan kami mendapatkan bayi kandungnya, selalu mengatakan, “bayinyo setelah melihat papanya, ai begitu kerasnya kehidupan dunia ini”.
Dan berilah peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman (QS. Adz Dzariyat: 55).
Dan firman Allah SWT : Dan ingatlah ketika Allah mengambil janji dari orang-orang yang telah diberi Kitab (yaitu) “Hendaklah kamu menerangkan isi Kitab itu kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya”. (QS. Ali Imran 187)
Juga firman Allah: Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebaijikan dan taqwa (QS. Al Maidah: 2).
Di dalam Hadits Shaih:
Dari Nabi SAW bahwasanya beliau bersabda Agama itu adalah nasihat Beliau ucapkan sampai tiga kali. Beliau ditanya: “Untuk siapa, Wahai Rasulullah?” Beliau Menjawb: “Untuk Allah, untuk Kitabullah, untuk Rasulullah, dan untuk para pemimpin umat Islam serta umat Islam secara menyeluruh.
Di dalam Hadits lain dari Hudzaifah:
Diriwayatkan dari Hudzaifah ra. Bahwa Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa tidak memberikan perhatian kepada urusan umat Islam maka ia bukanlah termasuk golongan mereka, dan barang siapa, baik sore maupun pagi harinya tidak melakukan nasehat untuk Allah, untuk Kitabullah, untuk Rasulullah dan para pemimpin umat Islam serta untuk umat Islam pada umumnya, maka ia bukanlah termasuk golongan mereka (HR. At-Thabarani).
Hanya kepada Allah kita panjatkan permohonan Kiranya Dia menjadikan buku ini bermanfaat untuk penulisnya, keluarga Ucok dalam hal ini Nike Pomalasari istri Ucok dan anak-anak, papa mama ucok dan saudara-saudara Ucok, serta untuk ummat manusia dan kiranya ini, semata-mata tulus untuk Allah Yang Maha Mulia, serta menjadikannya sebagai sebab untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat di sisiNya, di dalam surge yang penuh kenikmatan. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan do’a hambaNya. Dia lah Allah yang mencukukupi kita dan Dial ah sebaik-baik Dzat yang kepadaNya kita titipkan diri kita.
Gading Serpong, 20 April 2021
Edward Arif
A. Pendahuluan
Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan kematian (QS. Ali Imran: 185), kematian itu akan mendatangi baik dalam keadaan sehat maupun dalam keadaan sakit.
Tahun 1989 penulis dan Ucok yang sama-sama pengagum tokoh-tokoh pergerakan dunia diantaranya tokoh nasional asal Sumatera Barat, Buya Hamka (1908-1981) , dengan kalam hikmahnya dalam Tasawuf Modern, salah satu buku yang dalam tetralogi mutiara falsafah beliau, menuliskan di antara sebab orang takut menghadapi kematian; yakni diri yang tak memahami hakikat kematian; tiada menginsafi kemana hendak pergi sesudah mati; takut akan siksa di kubur hingga neraka atas dosa yang diperbuat; juga perasaan takut, lebih tepatnya sekedar sedih hati dan enggan untuk meninggalkan anak serta hartanya.
Kemudian Buya Hamka melanjutkan pembahasannya dalam buku tersebut, dibagilah keadaan manusia dalam mengingat mati menjadi tiga, ada orang yang sama sekali lupa dan abai, hingga tak mengerti hakikat mati, hingga ia sendiri yang menemuinnya.
Ada yang senantiasa takut saja mengingat kematian itu sendiri dengan cemas atau gemetar sebab datangnya tak pernah mengingat umur, waktu serta keadaan kata Buya Hamka yang bergelar Datuk Indomo.
Terakhir, adalah orang yang mengingatnya dengan akal budi dan hikmah, guna mengumpulkan sebanyak-banyak bekal jika malaikat maut datang tiba-tiba, demikian Buya Hamka mengingatkan pembacanya.
Demikianlah sampai hal tersebut yang dikatakan Buya Hamka benar-benar terjadi pada tanggal 27 Juni 2015, disaat sujud terakhir sholat subuh penulis langsung menangis mengingat penderitaan ucok yang masih terbaring di RS Premier Jatinegara Jakarta Timur, saat itu penulis masih bertanya-tanya kenapa tiba-tiba air mata ini mengalir begitu saja.
Ketika Penulis masih dalam keadaan sujud terakhir sholat subuh kebayang secara tersirat ucok telah pulang ke Rahmatullah dikeliling papa, mama dan saudara-saudara ucok, gak terasa air mata ini deras mengalir, setelah sholat subuh, sehingga mendorong menulis WA ke om Hakim menanyakan keadaan Ucok, tapi om belum menjawab-jawab sehingga kami saling WA di Grup Terafica Uno untuk bezuk Ucok.....kami bersama-sama sohib-sohib Ucok yang tinggal di jabodetabek di WAG Terafica Uno, janjian mau datang ke RS, Premier bersama-sama mau bezuk ke sana. Tapi manusia boleh berencana tapi Allah swt mempunyai rencana lain, Rencana Allah adalah Rencana yang terbaik untuk HambaNya, dr. HM. Yusuf Hanafiah Pohan, SpP tutup usia menjelang siang pukul 11.23 wib pada tanggal 27 Juni 2015 dalam usia 42 tahun lebih 14 hari,demikian kami di WAG mendapat kabar dari salah seorang sohib alm Ucok, dr. Amelia Muniarti. Tanda kepergian Ucok inilah yang menjawab pertanyaan kenapa penulis tiba-tiba menangis saat sujud diwaktu sholat subuh, sorenya Ucok dimakamkan di TPU Jeruk Purut Pukul 17,00 wib.
Kami semuanya merasakan kehilangan dan tidak bisa berkata-kata hanya mengucapkan lirih innalillahi wainna ilaihi rojiun, allahummafirlahu waafihi wafuanhu, sesungguhnya kami itu milik Allah dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Allah SWT, ya Allah ampunilah Ucok dan maafkanlah dia. Ucok sahabat, teman bermain dan bercanda telah mendahului kami dalam keadaan insya Allah meninggal dalam keadaan husnul khotimah, karena banyak kebaikan-kebaikan yang menjadi amal ucok selama hidup di dunia.
Terbayang aktivitas kami berdua saat di remaja masjid, di SMA 3 Palembang, selama kuliah dan setelah sarjana. Inilah insya Allah, penulis dan ucok dan teman-teman lainnya dikatakan sohib yang mana Sohib sendiri berarti teman yang selalu mendampingi kemana pergi. Ya kata-kata itu sangat tepat untuk menceritakan buku ini.
Sejak tahun 1988 masa-masa kelas 1 SMA, penulis asal SMP dari Bengkulu, kota kecil di Sumbagsel saat itu, tidak ada sedikitpun minder dengan teman-teman di SMA 3 Palembang yang sudah lama tinggal di Kota Palembang, mungkin bisa dikatakan penulis termasuk orang dusun masuk kota yang beruntung bertemu dengan teman-teman hebat di kelas 1.1 (Boys and Girls of Double One- Bogido) Nah di sekolah inilah Penulis mengenal ucok pertama kali, apalagi saat rumah dia di Komplek RSUP samping sekolah dipakai untuk latihan drama kami kelas Bogido dalam lomba antara kelas memperingati hari Pahlawan 10 November 1988.
Dan di tahun itu juga ucok, Gaguk dan Dharma mendatangi rumah kontrakan kami di Jl. Bluntas Raya Palembang belakang Universitas IBA mengajak main tenis lapangan. Hal ini menambah kedekatan pertemanan dalam suasana silaturahim.
Yang menarik semester ganjil Bogido tahun 1988, waktu pertama kali KH. Zainuddin (1952-2011) lagi kondang-kondangnyo waktu itu diundang Gubernur H. Ramli Hasan Basri (1936-1998) untuk ceramah di Masjid Agung,
kito waktu itu ngumpul kalu dak salah ado jugo jack, epen, darwin, aku di rumah Ucok untuk berangkat bareng ke Masjid Agung, idenyo dari ucok untuk berangkat naik apo, waktu itu naik oplet pal merah - KM 5 dari rumah ucok.
![]() | ||
Masjid Agung Palembang
|
Tiba di Masjid Agung bukannyo dengar ceramah tapi melihat wong pada berebut salaman dengan Kiai kondang itu (rame nian, cak pasar tumpah)sampe-sampe gubernur dan kiai tersebut dak kelihatan batang hidungnyo. Akhirnyo pulang lah kami, kareno dak katek ceramah yang disampaikan dan ucok dewek mutuske untuk bejalan kaki, kami semua setuju, sampe aku bepisah di RS Charitas/simpang pagar alam, naik mobil hijau jurusan Lemabang ke Yayasan Iba (Mayor ruslan) nah sejak itulah aku bertekad untuk bela-belain ucok, lillahi taala menjadi sohibnya kemana ucok pergi.
B. Sekilas Masa Kecil Yusuf Pohan (Ucok)
Masa Kecilnya dibesarkan dalam keluarga yang berpendidikan, ayah (papa) ucok adalah Tokoh Eksponen 66, Dr. H. Hakim Sorimuda Pohan, SpOG yang merupakan mantan Ketua Senat Mahasiswa FK UI 1966-1968. Lahir di Jakarta, 13 Juni 1973, tumbuh dan berkembang dengan baik dalam keluarga ke-Islaman dan intelektual yang kental, menjunjung kebenaran yang hakiki dalam perkataan dan perbuatan.
Ucok memiliki 4 bersaudara, dibawahnya ada MIkka, Ruli, Togar dan Sarah. Ucok sangat dihormati oleh adik-adiknya karena dia sangat melindungi adik-adiknya, seperti urusan sikap, tingkah laku dan cara beragama dan berakhlak kepada orang tua dan lingkungan sekitarnya. Penulis teringat ajaran Al-Quran, Surat Luqman :isi nasihat yang disampaikan Luqman dalam ayat Q.S Luqman ayat 12-19:
- Nasihat untuk tidak menyekutukan Allah dengan selainNya
- Nasihat mendirikan shalat
- Nasihat berbuat baik kepada ibu dan bapak Nasihat untuk selalu bersyukur kepada Allah terhadap apa yang dimiliki
- Nasihat untuk bergaul dengan baik dalam hal dunia, terutama dalam hal agama
- Nasihat menyeru kepada ma'ruf dan melarang kepada yang mungkar
- Nasihat untuk senantiasa bersabar dalam kondisi apapun dan menyerahkan kepada Allah segala urusan
Ucok merupakan alumni TK Bhayangkari..yg di daerah belakang Klinik Madira.Jl. Jendral Sudirman KM 3.5 Palembang
Sedangkan sekolah dasarnya di SD 82 Palembang di Daerah Kamboja. Selesainya di SD 82 melanjutkan di SMP Negeri 3 Palembang
No.
|
Nama
|
Masa Jabatan
|
1.
|
Kartijo
|
Tahun 1956 – 1962
|
2.
|
Amri Basri
|
Tahun 1962 – 1968
|
3.
|
Huta Barat
|
Tahun 1968 – 1974
|
4.
|
Wahid
|
Tahun 1974 – 1980
|
5.
|
M.Bahrie
|
Tahun 1980 – 1985
|
6.
|
Sopyan
|
Tahun 1985 – 1990
|
7.
|
Soeripto
|
Tahun 1990 – 1995
|
8.
|
Djamal Djakfar
|
Tahun 1995 – 1997
|
9.
|
Drs.Ahmad
|
Tahun 1997 – 2000
|
10.
|
Muazim Basri
|
Tahun 2000 – 2002
|
11.
|
Drs.Nasikhun
|
Tahun 2002 – 2004
|
12.
|
Hj.Zaitun Barmawi
|
Tahun 2004 – 2006
|
13.
|
Taufiq Zahiri, S.Pd, MM
|
Tahun 2006 – 2007
|
14.
|
Syahrul Fuadi, S.Pd, MM
|
Tahun 2007 – 2011
|
15.
|
Pohan, S.Pd, MM
|
Tahun 2011 – 2012
|
16.
|
Syamsul Komar, S.Pd, MM
|
Tahun 2012 – 2013
|
17.
|
Drs.M.Ansyori, M.Si
|
Tahun 2013 – Sekarang |
Keterangan : stabilo biru adalah kepala sekolah saat ucok sekolah di SMPN 3 Palembang
C. Masa SMA
SMAN 3 Palembang
Pada tahun 1988, awal ajaran Tahun 1988-1989, Penulis baru mengenal sosok Ucok sejak sama-sama di kelas 1.1 atau sering kami sebut Boys and Girls of Double One atau lebih dikenal kelas Bogido. Sepanjang ingatan penulis bahwa Ucok merupakan sosok yang mengedepankan kepemimpinan. Makanya ide menulis buku datang ketika musibah yang telah ditakdirkan Ucok mendahului kami pada tanggal 27 Juni 2015 karena sakit yang dideritanya selama kurang lebih 3 tahun.
Penulis berusaha menggali ingatan tentang Ucok sebagai seorang sahabat melebihi saudara kandung dan juga berdasarkan informasi-informasi yang penulis gali dari keluarga Ucok, teman-teman dan para sahabat-sahabat beliau selama hidup di dunia. Ketika menggali info-info ini , penulis langsung sadar bahwa ini bukan cerita biasa, ini adalah tanda-tanda dari era kehidupan penting yang kelak akan dipelajari ummat manusia baik secara formal dan informal pendidikan. Dari tanda-tanda Ucok ini ada dimana-mana, semasa kecil, TK, SD, SMP, SMA, Unsri dan Spesialis Paru di FK UI, dalam berbagai keputusannya, gebrakannya, pikirannya, tindakannya, konflik batinnya- semua ini adalah jejak-jejak sejarah yang masih segar di depan mata. Dari sinilah timbul gagasan untuk membuat catatan untuk merekam gaya ucok baik dari diamnya, humornya, sampai kebiasaan-kebiasaan Ucok selama hidup di dunia. Ini.
Pada masa orientasi pengenalan sekolah, nama Ucok santer disebut-sebut baik teman seangkatan maupun kakak-kakak kelas, tapi penulis belum merasa dekat dengan Ucok baru sebatas teman sekelas, baru setelah pulang dari Masjid Agung penulis rasakan, rasa setia kawan, saling support dan saling kerjasama dalam hal kebenaran dan kesabaran. Karena saat itu sangat terkait erat dengan masa Orde Baru reproduksi gerakan formalisasi ajaran Islam yang sempat muncul, tetapi mengalami kegagalan karena rezim pemerintahan Soeharto menerapkan kebijakan deideologisasi dan depolitisasi. Kebijakan rezim baru tersebut dengan keras tidak menolerir lahirnya ideology dan politik lain di luar kerangka ideology Pancasila dan menyebabkan marginalisasi gerakan ideologis umat Islam dalam kancah nasional.
Dalam hal ini pelembagaan syariat ditunjukkan melalui praktik hukum keluarga, dan penerapan ajaran Islam yang bercorak ritual seperti zakat, berpakaian Islami, larangan minuman keras, pemberantasan judi, dan pemberantasan maksiat serta penerapan unsur-unsur syariat Islam sejenisnya yang telah berlangsung lama dan menjadi realitas sosiologis, kehidupan umat Islam sejak masa kerajaan-kerajaan Islam hingga saat ini.
Bagi sebagian aktivis remaja masjid seperti Ucok dan Penulis, gerakan Islam syariat seperti NU dan Muhammadiyah, tidak menjadi soal bentuk apa pun Negara Indonesia, yang penting berlaku syariat Islam. Sehingga kami berdua memandang Negara Islam bersifat fleksibel, yakni Negara yang di dalamnya berlaku syariat Islam secara total atau “kaffah”, tidak peduli apakah Indonesia itu merupakan “Republik Batu” atau apa pun. Inilah membedakan kami dengan DI/TII yang terfokus pada formalisasi bentuk Negara Islam, kendati sama subtansinya, yakni memberlakukan syariat Islam. Disamping ada gerakan-gerakan Islam lainnya seperti Hizbut Tahrir (HTI) dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).
Proses mengenali Ucok ini, dalam kancah Ke-Islaman dan Ke – Indonesiaan saat itu didukung kuat dengan seringnya kami bersama teman-teman sekelas berkolaborasi baik saat tugas drama di rumah Ucok, kunjungan pertama Ucok ke rumah Penulis untuk mengajak main Tenis Lapangan bersama Gaguk dan Dharma, Ucok yang sering meminjamkan buku cerita seperti smurf karangan Puyo, Tintin, detektif Sherlock Holmes, Lima Sekawan, Ketawa Cara Rusia dan masih banyak lagi buku-buku bacaan yang saat itu bagi penulis susah mendapatkannya karena mahal dari saku uang jajan penulis.
Buya Hamka merupakan tokoh agama yang kami berdua menjadikan favorit disamping tokoh Internasional seperti Sayyid Qutb tokoh Ikhwanul Muslimin. Mereka berdua inilah yang menjadi sumber inspirasi kami berdua dalam memperjuangkan Islam walau saat itu usia kami masih SMA, yang menjadikan Al Quran dan Hadits sebagai pedomannya.
Al-Quran sebagai sumber pertama dan utama ajaran Islam menjelaskan bahwa kehadiran Tuhan ada dalam diri setiap Insan, seperti yang kami mendapatkan pelajarannya dari Alm.Buya KH. Zainal Abidin Hanif. Hal ini juga dijelaskan oleh Alm, KH Usman Said, SpOG, insan merupakan fitrah (bawaan) manusia sejak asal kejadiannya, sebagaiman yang dijelaskan dalam QS. AR-Rum (30):30 dan QS Al-A’raf (7): 172. Fitrah ini dimiliki setiap manusia yang dibawa olehnya sejak kelahiran, walaupun karena kesibukan dan dosa-dosa ia terkadang menjadi terabaikan dan bahkan tidak terdengar lagi suaranya. Kehadiran Tuhan merupakan fitrah manusia sebagai kebutuhan hidup. Kalaupun ada manusia mengingkarinya (ateis), hal itu bersifat sementara. Toh pada akhirnya ia akan mengakuinya, walaupun hingga saat jiwanya terpisah dari jasadnya, sebagaimana terjadi pada Fir’aun.
![]() |
| Buya Hamka |
Buya Hamka adalah seorang ulama besar di Indonesia, pengarang yangamat produktif “prolific”, sastrawan, pejuang, patriot, ahli syair,pengarang, pujangga, peminat sejarah, dan pemikir serta praktisipendidikan Islam. Dan dia pelopor Muhammadiyah di Padang Panjang,yang mana Muhammadiyah adalah suatu organisasi masyarakat yangmengutamakan penyebaran pemikiran-pemikiran baru secara tenangdan damai. Beliau lahir dari keluarga dengan tradisi intelektual yangkuat. Hamka adalah anak dari Haji Karim Amrullah seorang ulama yang terkenal di Minangkabau khususnya dan di Sumatra umumnya,sebagai pembawa paham pembaharuan dalam Islam yang di waktu itu disebut orang Kaum Muda. Latar belakang pendidikannya sebenarnya tidaklah terlalu tinggi. Hamka memulai belajar di Sekolah Rakyat danbelajar selama tiga tahun. Disamping itu Hamka belajar membaca al-Qur’an dengan bapaknya di malam hari. Dan pada tahun 1916-1923 Hamka belajar di Madrasah Diniyah Padang panjang dan SumatraThawalib Parabek dekat Bukitinggi. Dan masa studinya berakhir di waktu Hamka berumur 15 tahun. Akan tetapi dia seorang otodidak yang ulet sehingga menjadi seorang ulama besar di kemudian harinya dan banyak memberi kontribusi bagi agama dan negara melalui karangan danceramah-ceramahnya. Dalam perjuangannya Ia juga pernah memimpin majalah Pedoman Masyarakat di medan dalam gerakan Muhammadiyah Sumatra Timur tahun 1936. Hamka juga pernah meniti karirnya sebagai pegawai kementrian Agama pada masa KH Wahid Hasyim dan ditugaskan memberi kuliah di bebarapa PTAI; PTAIN Yogyakarta, Universitas Islam Jakarta, Fakultas Hukum dan Falsafah di Universitas Muhammadiyah Padang Panjang, Universitas Muslim Indonesia (UMI) di Makassar, danUniversitas Islam Sumatra Utara (UISU) di Medan
Kaset-kaset Buya Hamka kami ulang-ulang di mobil almarhum, serta penulis sengaja mencarikan hadiah buku karangan Buya Hamka sebagai hadiah ultah Ucok.
Sedangkan Penulis mendapatkan siapa dan gerakan Sayyid Qutb dalam Tirto dot id dimana 29 Agustus 1966, adalah hari terakhir bagi Sayyid Qutb untuk mencurahkan buah pemikirannya pada lembaran-lembaran kertas selama mendekam di penjara. Pemerintah Mesir mendakwa Qutb terlibat dan bersalah dalam rencana pembunuhan (yang gagal) terhadap Wakil Perdana Menteri Gamal Abdul Nasir, sehingga hari itu ia dieksekusi dengan cara digantung.
![]() |
| Sayyid Qutb |
Lahir dengan nama lengkap Sayyid Qutb Ibrahim Husayn Shadilli pada 9 Oktober 1906, Qutb tumbuh besar di Musha, Provinsi Asyut, era Mesir masih menjadi Khedivate atau negara bagian Kekhalifahan Ottoman. Perjuangannya menegakkan syariat Islam dipengaruhi aktivisme politik sang ayah yang rutin mengadakan pertemuan mingguan untuk membahas peristiwa terkini maupun mengaji Al-Qur'an beserta maknanya. Di usia 10 tahun Qutb menjadi 'hafiz', istilah untuk seorang penghafal Al-Qur'an. Meski demikian minatnya pada literatur lain juga tinggi. Qutb membaca cerita detektif Sherlock Holmes, buku Seribu Satu Malam, literatur tentang astrologi, dan lain sebaganinya.
Qutb rajin menabung demi melengkapi koleksi perpustakaan pribadinya. Di usia yang masih belia, ia telah mengoleksi 25 buku lintas tema kajian di kamarnya, hasil dari melobi seorang penjual buku di dekat rumah. Sebelum dikenal sebagai filsuf, Qutb muda menulis karya sastra selama periode 1932-1949. Dari tahun 1947 hingga 1950 ia sempat tinggal di Amerika Serikat untuk mempelajari sistem pendidikan di Colorado State College of Education (sekarang University of Northern Colorado) di Greeley, Colorado. Salah satu karya terbaik Qutb ditulis di masa persentuhan langsungnya dengan peradaban Barat ini, yakni “Al-'adala l-Ijtima'iyya fi-l-Islam” (Keadilan Sosial dalam Islam) yang diterbitkan pada 1949.
Sekembalinya ke Mesir, Qutb menerbitkan buku The America that I Have Seen (Amerika yang Telah Kulihat). Isinya adalah kritik eksplisit atas kehidupan di AS, yang kemudian mewakili pandangannya atas kehidupan di Barat secara umum. Bagi Qutb, Barat ada dalam materialisme, kebebasan individualistik, sistem ekonomi (kapitalisme), rasisme, antusiasme pada olahraga yang brutal (tinju), komunikasi dan hubungan pertemanan yang dangkal, kurangnya perasaan artistik, hubungan sesama jenis kelamin, dan dukungan kuat untuk Israel. Pendek kata, Qutb menolak sistem nilai yang dianut Barat dan makin memantapkan diri berjuang untuk tegaknya Islam di tanah kelahirannya, Mesir. Ia memutuskan keluar dari pekerjaannya sebagai pegawai negara dan bergabung dengan Ikhwanul Muslimin (IM) di awal 1950-an. Pemikiran-pemikirannya kian terasah sejak ia menjadi pemimpin redaksi majalah propaganda mingguan IM, Al-Ikhwan al-Muslimin. Apalagi ia kemudian ditunjuk sebagai anggota komite kerja dalam dewan pembimbing, cabang tertinggi dalam organisasi. Qutb dan kawan-kawan pernah mesra dengan Gamal Abdul Nassir sebagai wakil dari barisan nasionalis Mesir. IM mendukung kudeta Nasir atas pemerintahan Raja Faruk yang pro-Barat pada Juli 1952, sebab rezim itu dianggap tak Islami. IM pun berharap Nasir akan mendirikan pemerintahan Islamisai usai revolusi, tapi bulan madu keduanya segera berakhir setelah Nasir menegaskan akan membentuk pemerintahan sekuler-nasionalis di Mesir.
Nasir tahu bahwa IM punya potensi untuk menggoyahkan kekuasaannya sebab kala itu sedang menikmati popularitas yang cukup tinggi di kalangan rakyat Mesir. Sembari membentuk pemerintahan baru, Nasir juga membuat sebuah organisasi rahasia bernama Tahrir (kebebasan) untuk mengatasi hal-hal buruk yang diinisiasi oleh IM. Qutb tak tahu akan rencana ini. Ia masih sering berdiskusi dengan Nasir sembari melobi agar Mesir baru mendapat sentuhan Islami sebagaimana cita-cita IM. Namun makin lama Qutb makin menyadari bahwa upayanya akan sia-sia. Sikap nasionalistik Nasir hampir tak tergoyahkan. Qutb pun menolak segala tawaran Nasir dalam pemerintahan baru, termasuk jabatan Menteri Pendidikan maupun Menteri Kesenian. Qutb yang kecewa tak hanya memilih untuk menjauh dari Nasir, tapi juga terlibat dalam konspirasi IM untuk membunuh Nasir. Sayang, plot ini gagal. Nasir menggerakkan Tahrir dan aparat negara lain untuk memenjarakan Qutb dan menangkap anggota IM lain. Qutb mendapat kondisi yang buruk selama dipenjara, termasuk penyiksaan. Namun, di tempat itu juga ia melahirkan dua karya penting lain yang menjadi tonggak ideologi Qutbisme, Fi Zilal al-Qur'an (Di Bawah Naungan Al-Qur'an) dan Ma'alim fi'l-Tariq (Milestone/Tonggak). Qutb sempat dibebaskan pada akhir tahun 1964 atas permintaan pribadi Perdana Menteri Irak saat itu, Abdul Salam Arif. Namun, delapan bulan berikutnya, Agustus 1965, ia kembali dijebloskan ke penjara dengan tuduhan yang sama. Dalam persidangan, dakwaan untuk Qutb banyak diambil dari buku Ma'alim fi'l-Tariq. Puncaknya, Qutb dan enam anggota IM lain dijatuhi hukuman mati karena persekongkolan untuk membunuh presiden dan pejabat negara Mesir lainnya.
Penulis mencoba menelusuri pemikiran Ucok tentang Sayyid Qutb, maka penulis dapatkan deskripsi seperti ini karena ada dinamika gerakan keagamaan tidak hanya sebatas membaca ‘fisik’ gerakan tersebut. Lebih dari itu, sebenarnya gerakan memiliki nilai, gagasan dan tradisi. Hubungan di dalam tingkat ini banyak disadari oleh para ahli lebih kompleks. Ketiganya mencakup konteks lokal dan pada saat bersamaan bisa berimplikasi pada tingkat global. Pada skala global, transformasi nilai, gagasan dan tradisi membentuk wawasan partikulatistik. Penanaman objektifikasi, politik bahasa yang sama, dan simbol-simbol pemersatu menandai pergerakan yang melampui konsep politik konvensional. Sayyid Qutb. Seorang ideolog islam yang dihormati oleh banyak kalangan revivalis islam baik sunni maupun syiah. Pemikirannya yang terkesan banyak mengandung pesan perlawanan ternyata tidak bisa dipersepsi sama. Baik Barat maupun Timur, memiliki kesan berbeda terhadap tokoh ini. Secara garis besar, terdapat tiga kesan yaitu menghujat, mendukung, dan mengkhaskan. Sebaran pemikiran Sayyid Qutb di Indonesia menarik untuk dicermati. Karena banyak gerakan islam di Indonesia terutama islam politik menggunakan karyanya sebagai referensi. Bahkan ditelevisi terdapat program regular kajian islam yang mengkaji karya Qutb yakni tafsir Fi Zilalil Qur’an.
Dengan contoh tokoh-tokoh Islam seperti Buya Hamka dan Sayyid Qutb inilah yang terlihat dalam diri Ucok yang penuh semangat bahkan boleh dikatakan pionir dalam masalah-masalah Islam seperti gerakan muslimah wajib memakai Jilbab yang masa-masa itu ada pelarangan dari Pemerintahan Soeharto dalam menggunakan pakaian muslimah di sekolah-sekolah dan tempat umum. Tapi Ucok dan penulis sangat gigih memperjuangkannya seperti yang kami lakukan di SMA Negeri 3 Palembang.
Aktifvis Remaja Masjid
Ucok merupakan Aktivis Remaja Masjid As-Shofa yang berada di Komplek Perumahan RS Dr. Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang, sejak tinggal di Perumahan RSMH No. 5 ini, Ucok sudah aktif di Masjid baik sebagai jamaah maupun sebagai Panitia atau Pengurus di Masjid tersebut sebagai wakil dari remaja. Dalam masa pencarian identitas diri ini, sehingga Ucok sebagai remaja berusaha menonjolkan identitas pribadi atau kelompoknya. Peniruan terhadap figur-figur tertentu dan menemukan tokoh-tokoh idola yang digandrungi, seperti tokoh dan ulama nasional dan Internasional.
Seorang ulama kharismatik yang diidolahkan Ucok, Buya Hamka pernah mengatakan bahwa, “Jika kalian ingin melihat orang Islam maka lihatlah ketika Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha dan Sholat Jum’at. Tetapi jika mau melihat orang beriman maka datanglah ke Masjid ketika shalat subuh”.
Seorang penguasa Yhudi pernah berkata, “Sampai saat ini kualitas umat Islam sangat rendah. Kualitas ummat Islam itu baru hebat dan kami baru takut manakala jamaah sholat subuh menyamai jumlah jamaah sholat Jum’at.
Dua kalimat di atas sering Penulis dan Ucok dapatkan dan dengar baik melalui penceramah-penceramah yang diundang di Masjid-masjid tempat kami beraktivitas. Karena orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang senantiasa berada di rumah Allah. Mereka sangat mencintai rumah Allah, karena itulah aktivitas orang mukmin itu diberkahi oleh Allah, serta siap dan apa yang ada di sekelilingnya juga diberkahi oleh Allah swt karena mereka senantiasa berada di Masjid rumah Allah swt sehingga mereka menghakses hidayah, rahmat, berkah Allah Jalla jalaaluuh.
Kami tidak meninggalkan berjamaah di Masjid. Karena itulah hati kami dihimpun oleh Allah swt dan kami mau bersama-sama memenuhi panggilan Allah swt dalam memakmurkan Masjid, yang merupakan baitullah di muka bumi.
Hanya hamba Alla SWT yang benar-benar beriman kepada Allah swt yang benar-benar beriman pada hari akhirat, merekalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah swt, yang benar imannya, yang imannya benar, begitu kami mendengar dari penceramah di masjid-masjid Palembang.
Catatan Adriansyah (Yayang atau Jack), SMAN 3 Palembang, patut diapreasi
- Kelas kami Fisika satu. Nama kerennya Terafica Uno. Terafica adalah singkatan Terminal Anak Fisica, nama warisan dari kakak kelas kami sebelumnya. Uno saya ambil dari bahasa Italy yang artinya satu, karena waktu itu pas heboh piala dunia di Italy. Belakangan Topek membuka usaha warung Internet (warnet) diberi nama Uno.net. Bahkan Icap memberi nama anaknya Fahri Uno.
- Fisika sengaja ditulis Fisica, biar terlihat lebih keren dan “sangar”. Perubahan huruf k menjadi huruf c kami lakukan kalau pas pelajaran Fisika. Sampai akhirnya pak Nelson Sitompul mendiktekan soal, Ucok dan saya menulisnya: “Sepotong cawat dialiri listric….”
- Pelajaran fisika, pak Tampubolon memberikan soal lisan: “Satuan antara dua titik disebut za……?” para murid bingung dan tidak bisa menjawa, apa ya kira-kira… ada yang usil nyeletuk pelan “zakar…” Rupanya jawabannya yang benar adalah “Zarak”
- Saya duduk sebangku dengan Dwi Hendro W, dan saat itu adalah pelajaran Kimia. Bu Guru Aniti sedang menulis soal-soal di papan tulis. Dwi menyalin soal dan kemudian berhenti sesaat memandang ke depan, kemudian berbisik kepadaku: “Wah kalo diperhatikan, body bu Aniti masih bagus banget ya Jack…” hahaha… dasar Dwi!
- Akhsan membawa TV portable ke dalam kelas. Karena di dalam kelas sedang ada pelajaran bahasa Inggris yang membosankan, kami di belakang mencoba menyalakan tv yang kami tutup dengan buku yang diberdirikan. Pada waktu itu hanya ada tv swasta TPI yang siaran di pagi hari. Setelah putar-putar tombol, akhirnya sinyalnya dapat, kami antusias menonton, dan acaranya adalah…. Pelajaran Bahasa Inggris!
- Pelajaran Geografi, ibu guru bertanya mengapa penduduk di Indonesia pertumbuhannya cukup cepat, Melvin nyeletuk “musim hujan bu..” Ibu guru marah dan bertanya apa hubungannya musim hujan dengan pertambahan penduduk yang cepat. Anak-anak mengambil kesimpulan si Ibu guru main di musim kemarau, haha…
- Pelajaran Agama, Bapak guru yang terkenal galak sedang menulis materi pelajaran di papan tulis. Tiba-tiba ada seekor kucing berjalan-jalan diantara meja dan kursi kami. Satu-dua orang murid mulai iseng menirukan suara kucing, makin lama makin keras. Akhirnya pak guru marah. Berhenti menulis, beliau berbalik dan meminta siapa yang tadi menirukan suara kucing untuk mengaku. Tidak ada yang mengaku, semua murid diam. Pak guru semakin marah, sampai akhirnya si kucing muncul dan berjalan dengan tenang ke luar kelas. Pak guru: “Oh tadi memang suara kucing beneran ya? Kalau gitu bapak minta maaf ya..” Wakakaka… kucing penyelamat…
- Pelajaran PKK, ibu guru menerangkan pelajaran di depan kelas, sementara Edwin dan saya main catur mini yang kami tutupi dengan buku pelajaran PKK. Padahal kami duduk di deretan paling depan. Tiba-tiba bu guru bertanya: “Adriansyah, coba jelaskan bagaimana cara mencuci celana jeans dengan benar?” wah, karena saya tidak memperhatikan, saya tidak bisa menjawab. Ibu guru berdiri dan menghampiri meja kami, dengan gugup saya meletakkan buku menutupi catur yang sedang kami mainkan, tapi beberapa bidak catur malah jadi jatuh keluar. Bu guru marah besar begitu tahu ternyata selama dia menerangkan pelajaran, kami malah main catur. Edwin dan saya dibawanya kekantor. Di kantor malah beliau yang menangis tersedu-sedu, kami dibilang begitu tega melakukan semua itu. Waduh…
- Duduk-duduk nongkrong di depan kelas, Edi, Melvin dan saya melihat ada kotak kecil dari karton yang kosong. Iseng, kami isi dengan batu bata, ditutup, kemudaian ditaruh di tengah koridor depan kelas. Tak lama datang Reinhard (alm). Dari jauh dia melihat ada kotak karton di tengah jalan, sambil berlari kecil ambil ancang-ancang, dia tendang kotak itu dengan kencang… Langsung setelah itu dia terpincang-pincang menahan sakit di kakinya. Kami pura-pura tidak tahu, langsung masuk kelas…
- Kami sedang berkumpul di rumah Jilly di Gg. Kangkung, Sekip, untuk begadang, main kartu dan nyanyi-nyanyi. Sekitar pukul 7 malam, Darwin buang air besar, dan celana jeans-nya dia taruh di luar toilet. Mulai timbul iseng teman-teman, kami buka dompetnya dan ambil satu-satunya selembar uang Rp 10 ribu. Kami belikan 12 bungkus nasi padang (dulu sebungkus nasi padang lauk telor Rp 450) dan beberapa bungkus rokok. Nasi bungkus kemudian kami makan rame-rame termasuk juga Darwin. Setelah selesai makan, baru kami beritahu bahwa itu nasi dibeli dari duit Darwin. Darwin malah mengelak bilang uang 10 ribu itu adalah untuk bayar utang dia ke Akhsan. Jadi bukan salah dia, dan utang dia ke Akhsan lunas. Akhsan jadi ribut dan ga terima, sedangkan Darwin ngotot. Hahaha… entah bagaimana akhirnya penyelesaian kasus itu, saya lupa.
- Di hari lain perbegadangan di rumah Jilly, sekitar pukul 9 malam Akhsan keluar beli bakso Jl. Bangau bersama Amrul meminjam motor Topek. Akhsan belum familiar dengan motor Topek, tidak tahu bahwa kunci motor harus dicabut dan disimpan karena sudah longgar dan bisa jatuh. Begitu sampai kembali di rumah Jilly, Akhsan baru sadar kunci motor hilang jatuh dalam perjalanan pulang. Akhirnya kami ramai-ramai keluar jalan kaki menyelusuri kembali jalan yang tadi dilalui Akhsan, siapa tahu kunci yang jatuh masih bisa ditemukan. Sampai pukul 11 malam, hujan pun mulai turun makin lama makin deras. Sudah kepalang tanggung akhirnya kami buka baju, mandi hujan dan nyanyi-nyanyi menyelusuri jalan, edan… tengah malam ga pakai baju hujan-hujan di jalanan. Kuncinya sendiri tidak ditemukan..
- Di lapangan basket ada pemilihan ketua Osis, salah satu calonnya adalah Slamet, wakil dari kelas kami. Tentu saja kami dukung dan meramaikan kampanyenya Slamet. Salah satu poster yang kami bawa adalah yang bertulis: Viva (nya) Slamet!
- Sewaktu upacara bendera, petugas membacakan doa dan setiap kali dia berkata: “Ya Tuhan kami…” maka dari barisan belakang kami ada yang nyeletuk pelan dengan suara berat: “Hmmm…”
- Satu acara yang sering kami lakukan adalah nongkrong di tempat sepi (sekitar jembatan Musi II adalah tempat pavorit, karena waktu itu lokasinya masih sangat sepi dan jarang terdapat rumah penduduk). Kami nongkrong di kap mobil sambil nyanyi teriak-teriak ditemani gitar. Anggota tetap biasanya adalah Darwin, Otong, Iis, Juf, Topek, Ama dan saya. Pada suatu malam kami dihampiri mobil patroli garnisun. Kami digeledah, mobil juga digeledah. Kami dicurigai mabok dan mengkonsumsi narkoba. Setelah clear, mereka menyuruh kami bubar. Hehehe… kami paling juga cuma merokok pak…
- Buka Puasa bersama di rumah Nurmalia, pak ustadz membacakan arti dari suatu surat; “Hai orang-orang beriman…” Beberapa anak-anak langsung nyamber : “Hai….”Kemudian pak ustadz menerangkan bahwa nabi itu sangat santai dalam mengerjakan solat tarawih, di antara tarawih kadang nabi beristirahat sejenak, “duduk nyantai” celetuk Icap… “iya, bisa jadi duduk nyantai” sambung pak ustadz.. “ngopi..” Icap nyletuk lagi “Ya, mungkin saja sambil ngopi…” lanjut pak ustadz “Ngudut…” celetuk Icap lagi Kali ini pak Ustadz nggak nanggepin…
- Sewaktu Lebaran, kami biasanya rame-rame menyerbu rumah teman, terutama yang kira-kira menyediakan mpek-mpek. Di rumah Prima, pembantu Prima keluar membawakan sepiring mpek-mpek. Sang pembantu masuk lagi kemudian keluar membawakan sebotol cuka mpek-mpek, tapi dia langsung kaget, karena ternyata mpek-mpek sepiring besar tadi sudah langsung ludes! Haha.. salah taktik dia, harusnya cuka mpek-mpeknya dulu yang keluar mbok.
- Kemudian di rumah Nurmalia, anak-anak duduk manis menunggu datangnya mpek-mpek. Ibunya Lia bertanya maunya mpek-mpek rebus apa goreng. Kami menjawab : “Mpek-mpek goreng aja tante..” Begitu Ibunya Lia mau masuk ke dalam, ada yang nyeletuk: “Tapi sementara nunggu yang digoreng, yang rebus dulu juga boleh Tante…” Dasar kurang ajar…
- Persaingan akan lebih seru lagi kalau di rumah Saleh, karena tuan rumah juga cowok, maka rasa segan dan malu sama sekali nol. Begitu Saleh muncul sambil bawa mpek-mpek, langsung diserbu dengan berbagi cara. Beberapa mpek-mpek jatuh menggelinding di lantai, itu pun tetap diperebutkan dengan penuh semangat. Benar-benar perjuangan yang menguras energi….. Yang biasanya mendapat hasil di atas rata-rata adalah Ucok dan Slamet.
- Bulan puasa, pelajaran PMP, gurunya adalah yang terkenal paling sangar dan sadis di SMA kami, Bpk. Sulain. Di kelas sedang diadakan ujian lisan. Murid dipanggil satu-persatu duduk di depan meja beliau untuk diuji. Pas giliran Akhsan, saking gugupnya Akhsan malah menginjak sepatu pak Sulain. “Kamu ini belum apa-apa udah berani main injak aja…” omel pak Sulain.Selesai ujian lisan, pak Sulain bangkit dari kursinya, berdiri sambil menarik pinggang celananya ke atas. Darwin spontak nyeletuk “ai.. melorot ye…” Suasana kelas kaget dan langsung senyap, tegang atas celetukan darwin yang nekat itu. Setelah agak lama terdiam, sambil kembali menarik pinggang celananya, pak Sulain malah senyum dan berkata: “Tenang aja, masih ada pengaman…” Langsung pecah ketawa di dalam kelas sekaligus lega…
- Buka puasa bersama di rumah Saleh. Selesai solat magrib berjemaah, beberapa anak melanjutkan dengan solat sunat (sunnah badiah magrib). Aku berdiri mau solat sunnah, sambil ajak Otong:“Yuk Tong, solat sunnat…” Otong: “Lajulah Jack, aku lah sudah sunnat…” :D
- Jalan-jalan lebaran, kami rombongan mau ke rumah Vera. Sebelumnya mampir di masjid komplek Kedamaiyan Permai, mau solat Dhuhur. Sementara yang lain sibuk ambil wudhu, Otong masih terlihat santai duduk di teras masjid sambil merokok. Topek menegur: “Hoi Tong..! Solat ess…!”Otong: “Lajulah kamu ess…”Tapi tidak begitu lama, sepertinya otong berubah pikiran, mematikan rokoknya, berdiri siap-siap untuk wudhu sambil berkata: “Ah, daripada katek gawe nunggu, solat bae ah…” :P
- Di dalam laci bangku belakang dalam kelas, ada kartu remi yang mungkin bekas anak Bina Warga siang kemarin. Iseng, Otong, Iskandar, Darwin dan saya memainkan kartu tersebut, tapi kepergok oleh guru olahraga. Beliau marah dan menuduh kami berjudi. Yang main kartu diminta untuk segera menghadap wali kelas di kantor. Melihat gelagat masalah ini bisa jadi besar dan serius, kami memohon Asrul agar ikut kami ke kantor dan mengaku ikut bermain. Dan benar, begitu melihat di antara kami ada Asrul, anak kepala sekolah, wali kelas yang awalnya akan marah besar, tampak melunak. Kami hanya diberi nasehat ringan dan di suruh kembali ke kelas. Hehehe… thanks Rul!
- Amrul, ditemani Icap, mencoba PDKT Ima. Amrul: “Ma, boleh dak gek malem (aku) ke rumah (kamu)…? Ima: “Yoi…”Besoknya Icap nanya Amrul, bagaimana cerita ke rumah Ima semalam.Amrul: “ Dak jadi ess. Kan kato Ima dak boleh” Icap: “Hoi lolo! ‘yoi’ itu artinyo iyo, bukan dak boleh. Aii… kau nih Rul…!” :D
- Mawardi, ketua kelas, memanggil beberapa murid untuk menghadap pak Najib, wali kelas kami, ke kantor. Salah seorangnya adalah Icap (Ardiansyah). Karena nama di baju seragamnya dia bikin “I cap Ard” dan khawatir kena semprot, Icap minta tukaran baju dengan saya, karena nama kami mirip. Saya oke saja. Tidak lama kemudian Mawardi kembali ke kelas dan memberitahu bahwa saya juga dipanggil ke kantor. Waduh! Akhirnya saya ke kantor dan.. benar, saya kena semprot karena nama itu. “Ini lagi apa-apaan namanya dibikin begini! “Ai Kep Ard” segala, emang artinya apa he?” Rupanya pikir pak Najib itu bahasa Inggris, hehe….
- Pertengahan semester di kelas III, 2 bangunan kelas baru telah selesai. Walau kami tinggal sebentar lagi di SMA, karena ada Asrul, kelas kami boleh memakai kelas baru tersebut, bahkan boleh memilih mau kelas yang mana. Untuk menghiasi kelas baru, kami membingkai beberapa poster pahlawan nasional. Namun bingkai kami buat dalam dua sisi yang bisa dibolak-balik. Di belakang poster gambar pahlawan nasional kami tempel beberapa gambar Bon Jovi, Guns n Roses, Iwan Fals, Pesawat dan helikopter tempur. Kalau suasana lagi “bagus” poster pahlawan kami balik, muncullah kelas kami dihiasi poster2 Bon Jovi, GnR, Iwan dan Pesawat tempur.
- Dalam menghadapi EBTA/EBTANAS, Akhsan, Topek, Iis, Gunawan, Awang dan saya memilih bimbingan belajar di Om Rozak. Karena uang SPP sering terpakai untuk “keperluan lain” dulu, sebagian dari kami menuggak SPP. Sampai pada suatu hari Om Rozak mendatangi meja kami menagih SPP, “Adriansyah..?” Saya angkat tangan, “kamu menunggak SPP 2 bulan, segera lunasi!” malu juga dibilangi begitu di dalam ruangan kelas. Topek, Awang, juga nunggak 2 bulan.Kemudian Gunawan ditanya namanya siapa, karena merasa juga menunggak 2 bulan, Gunawan berspekulasi mengaku bernama Iskandar yang kebetulan hari itu ga masuk. “Iskandar….” guman Om Rozak sambil mengamati daftar nama… “Kamu nunggak 3 bulan! Segera lunasi ya!” Wealah… Iskandar lebih parah lagi.. wkwkwk.. Gunawan mukanya merah..
- Study tour yang direncanakan 3 hari 2 malam ternyata selesai dalam waktu 2 hari 1 malam. Karena jatah dari orang tua memang sudah 3 hari 2 malam, beberapa dari kami tidak pulang dan menginap di rumah Jilly agar tetap dianggap study tour memang 3 hari 2 malam. Tapi keluarga Mawardi panik, karena Mawardi belum juga pulang tapi mobil sewaan sudah pulang. Mawardi lupa bahwa yang punya mobil sewaan adalah tetangganya. Jadi mau ngaku belum pulang study tour tapi mobil sewaannya sudah pulang. Haha…
- Minggu pagi, Jilly, Topek dan saya, bertiga berbonceng motor menuju ke komplek Pusri untuk nonton bioskop gratis. Di perjalanan, agak jauh di depan kami, ada mobil hardtop yang di belakangnya berisi 4 orang, sepertinya melambai dan memanggil. “Eh, siapa tuh, kayaknya teman kita tuh, ayo kejar!” Kata Jilly sambil tambah ngebut. Setelah dekat, pintu belakang hard top terbuka, dan sambil memegang pintu, seorang di dalam marah sambil ancungkan tinju: “Hei kamu!, udah boncengan bertiga, ga pake helm lagi!” Ups, ternyata mereka polisi, hahaha… kabur…
- Husin Nabil ada sukuran di rumahnya di komplek Assegaf Plaju. Kami datang, lumayan makan gratis hehe.. Pas acara makan, Husin keluar dengan membawa nampan besar berisi nasi putih dan nasih minyak, lengkap dikelilingi dengan lauk pauknya. Setelah menaruh nampan besar tersebut di lantai, di hadapan kami, Husin kembali masuk. Dengan yakin Ucok berkata bahwa tradisi orang Arab memang makan rame-rame pakai tangan dari satu wadah nampan besar. Kamipun ramai-ramai mulai makan pake tangan langsung dari nampan besar tersebut. Tidak lama kemudian Husin keluar lagi dengan membawa setumpuk piring dan sendok untuk makan. Hahaha… Ucok sok yakinn…
3. Kiprah saat Kuliah
4. Dari PTT - Spesialis
![]() |
| ilustrasi suasana tempat kontrakan Ucok di Singkut Sarolangun Jambi |
5. Menikah sampai tutup usia
- Muhammad Izza Yasra Pohan 26/3/2002
- Muhammad Shadiqa Awfa Pohan 26/9/2005
![]() |
- Tahun 2009 saat Gempa Padang
- 2010
- Lucu Gaya Ucok
- abang Ucok, selalu bikin happy sekitarnya karena suara ketawajya yg khas
- selalu melucu, Kalo orang lain ngetawain krn ada yg salah/ aneh, abang malah ikut ketawa keras, ridak marah/ baper 😊
- Cuma setahu aku, sblm meninggal, kata nike (kl gak salah) abang pengen makamnya biasa aja, gak pake hiasan2..Kayaknya terakhir abang baca2/ belajar ttg sunnah deh..
- Dulu zaman SD malah abang paling suka liat kalau dikuncir kuda...makanya kayaknya senang liat anak cewek rambung Panjang...(kayaknya)
- yang pasti abang selalu bisa bawa suasanan jadi ceria, kalo ada dia rasanya gak pernah sepi
- suka iseng juga, waktu SD kalo kita pulang sekolah suka dikagetin dari balik pintu
- abang juga sangat aktif berorganisasi baik di lingkungan sekolah, di masjid, dll
- saking aktifnya di masjid dulu suka ikut antar jemput ustad waktu ramadhan
- jam sholat juga suka diajak jalan kaki untuk sholat berjamaah di masjid komplek, sepanjang jalan kaki ke masjid juga suka ngobrol2 seputar sholat2 sunnah, seputar pakaian saat ke masjid, dll
- Abang Paling senang kalo liat aku pake jilbab
- waktu aku potong celana panjang jadi celana pendek, abis dimarahin
- Pas aku coba pake handuk dijadiin jilbab, waktu itu abang muji aku tapi aku lupa ngomong apa dia, waktu masih di RSUP No. 5
- Pas aku sudah haid trus ga sholat, dimarahin karena gak sholat disuruh sholat padahal lagi gak sholat jadi aku pura2 sholat, gak mungkin aku bilang aku lagi gak sholat takut.
Karya Ilmiah dr.HM. Yusuf Hanafiah Pohan, SpP (Ucok)
- Akurasi pemeriksaan sitologi dan histopatologi pada pasien kanker paru di beberapa rumah sakit Jakarta tahun 2000-2005 / M. Yusuf Hanafiah Pohan (
Laporan penelitian spesialis Program Studi Ilmu Penyakit Paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta, 2006
Bibliografi : lembar 35-37) --> https://library.ui.ac.id/detail?id=95302&lokasi=lokal0311302959 616.075 POH a; 616.075 POH a Baca di tempat Perpustakaan Salemba
(Lantai 05B-Salemba) - Asma dan Polusi Udara M. Yusuf Hanafiah Pohan, Faisal Yunus, Wiwien Heru Wiyono Bagian Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/ Rumah Sakit Persahabatan, Jakarta 2003 (http://www.itokindo.org/?wpfb_dl=91)
8. Dokumentasi





















Comments
Post a Comment